Main Guli di Pinggir Sungai Deli

Seseorang pernah berseloroh, siapa yang tak pernah main guli (bermain kelereng), dia kehilangan satu bagian penting masa kanak-kanaknya. Selorohnya semakin menjadi ketika seseorang tadi juga menyarankan untuk tidak perlu cepat-cepat menjadi orang tua sebelum bermain guli.

Entah apa yang dipikirkannya ketika mengatakan itu. Menurutnya saat masih kecil, dia nyaris tidak pernah kalah bermain guli dengan kawan-kawannya. Saat itu, sekitar 30 tahun yang lalu, bermain guli atau yang juga dikenal dengan gundu, keneker, dan kelici merupakan permainan paling menyita waktu dan stamina.

Bahkan, sembari menunggu jam masuk sekolah dia pun bermain guli. Apalagi saat jam istirahat. Begitupun, ketika pulang sekolah, dengan masih mengenakan pakaian putih merah dan nyeker halaman rumah sudah ramai dengan anak-anak yang di kantongnya menonjol penuh dengan guli.

Tidak hanya ketika dia masih duduk di bangku sekolah dasar. Sampai memasuki kelas satu sekolah menengah atas pun dia masih sering bermain guli. Situasinya berbeda yang mana di saat masih SD, dia bermain di atas tanah, beranjak dia sudah mengenakan celana sekolah abu-abu halaman bertanah sudah berkurang berganti semen.Bermain di atas tanah dirasa jauh lebih enak karena tidak terlalu memantul.

Permainan pun berubah. Setelah dia menikah dan punya anak pun, dia sudah tidak lagi bisa mengajari anaknya bermain guli. Bukan karena kesibukan bekerja sebagai kuli bangunan tetapi karena anaknya sudha lebih tertarik dengan game di hp yang -kata dia- selebar setengah batu bata di tempat kerjanya.

Dia pernah mengajari anaknya bermain guli, tetapi hanya sebentar saja dipeganginya kemudian dilemparkannya ke parit depan rumahnya. Biarpun sudah dibelikan lagi, anaknya tidak tertarik sama sekali. Justru, anaknya akan menangis sejadi-jadinya kalau kalau hpnya dimintanya atau diganti dengan mainan lainnya saat anaknya sedang memainkan game di hpnya walaupun cuma game menembaki bola yang warnanya sama .

Pun berbeda dengan dia waktu bermain guli dulu. Dia pernah menginjak pecahan kaca di semak-semak ketika mencari gulinya yang terlempar masuk ke gundukan sampah daun. Kawannya juga pernah disengat kalajengking ketika mengambil gulinya di bongkahan pohon tumbang.

Dia juga membandingkan, kalau sepulang bermain guli selalu menikmati jeweran dan cambukan dengan kemoceng karena baju seragam sekolahnya kotor atau kelamaan bermain sampai lupa makan siang atau sekedar tidur siang atau karena bermain terlalu jauh dari rumah.
Sekarang ini, dia melihat anaknya selalu di rumah, pakaiannya selalu bersih, gampang disuruh makan asalkan sambil memegang hp. Tapi, dia nyaris tidak beranjak dari tempatnya bermain hp. Kakinya tak pernah menginjak pecahan kaca, tak pernah disengat kalajengking.

Dia hanya duduk dengan kepala menunduk dengan muka serius seperti sedang suntuk. Bukan pula anaknya sedang mengantuk. Jarinya sibuk menggesek-gesek dan menekan-nekan layar hp menembaki bola warna-warni. Seringkali pemandangan itu dilihatnya ketika anaknya sedang makan.

Istrinya yang kadang tidak sabar, gentar ketika menangis dan berteriak-teriak ketika hpnya diambilnya. Dia pun selalu urung untuk menjewer atau mencambuknya dengan kemoceng. Dia berandai-andai, kalaulah anaknya suka bermain guli mungkin dia akan tahu permainan yang lebih asyik.

Tetapi dia kemudian mengatakan, mungkin juga sebaiknya tidak begitu. Walaupun kini sedang meyakini, lebih tepatnya khawatir kelak anaknya akan berkembang seperti yang tidak dia bayangkan atau inginkan. Karena itu dia merasa hanya perlu lebih giat memamerkan keasyikan bermain guli bersama kawan-kawannya sembari memaparkan buruknya game di hp sendirian dan menjadikannya seperti anak pendiam tapi pemarah.

Sambil sedikit tertawa dia mengatakan, mungkin saja anak yang bermain guli akan berakhir seperti dia. Sedangkan anak yang bermain game di hp akan seperti anak yang lebih dari dirinya. Bisa jadi lebih baik, bisa jadi lebih buruk. Dia hanya berharap yang terbaik untuk anaknya. Karena, kata dia mencoba membuktikan, orang sekarang belum tentu lebih pandai daripada orang dulu walaupun belum mengenal hp sekalipun.

Di Kampung Aur, Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun, masih bisa dengan mudah dijumpai anak-anak bermain guli, sebuah permainan yang sudah ada sejak abad pertengahan dan seringkali dimainkan oleh kalangan aristokrat dan bangsawan. Konon, di Perancis, permainan ini ternyata sangat digemari dan mereka memanggilnya dengan sebutan Pentaque.

Sejarah pun berlanjut hingga sampai ke zaman Renaissance atau pencerahan. Pentaque menjadi mainan di kalangan aristokrat dan bangsawan bahkan kabarnya pernah disejajarkan dengan olahraga Tennis yang dipandang cukup elit di masa itu. Yang diperbolehkan untuk bermain olahraga itu hanyalah orang-orang tertentu saja.

Terhitung sejak tahun 1850, sebuah organisasi sosial Clos Jouve memperkenalkan kembali Pentaque yang semakin hari kian dilupakan oleh masyarakat. Menginjak abad ke-20 permainan ini mulai dipatenkan seiring dengan semakin banyaknya bermunculan klub-klub Pentaque sebagai pelestarian kebudayaan tradisional.

Teknologi pembuatan guli kaca ditemukan pada 1864 di Jerman. Guli, yang semula satu warna, menjadi berwarna-warni mirip permen. Teknologi ini segera menyebar ke seluruh Eropa dan Amerika. Namun, akibat Perang Dunia II, pengiriman mesin pembuat guli itu sempat terhenti dan akhirnya masing-masing negara mengembangkannya sendiri.

Entah bagaimana dan kapan akhir permainan guli ini, yang jelas, dari sebelumnya permaian guli pernah di’monopili’ kalangan bangsawan, kemudian dimainkan oleh masyarakat umum. Anak-anak Labosude di pinggiran Sungai Deli hingga sekarang, Minggu (9/11/2014). Biasanya, setelah bermain guli, mereka akan mandi sungai dengan tanpa rasa takut menceburkan diri ke sungai sambil tertawa-tawa keras.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s