Musyawarah Tentang Sampah dan Limbah di Sungai Deli

Musyawarah menjadi salah satu kegiatan rutin di markas Labosude. Kamis (2/10/2014) malam, beberapa orang warga dari Kampung Aur, Kelurahan Aur dan dari Gang Badur, Kelurahan Hamdan, Kecamatan Medan Maimun serta beberapa orang aktivis lingkungan Medan dan salah satu aparat tentara berdiskusi mengenai upaya pelestarian lingkungan hidup khususnya Sungai Deli dan persiapan kegiatan kampanye dan peringatan Hari Pahlawan 10 November 2014.

Banyak persoalan yang terungkap dalam musyawarah yang dilakukan di pinggiran Sungai Deli sambil mencicipi hidangan sederhana berupa martabak manis yang dibawa oleh salah seorang tentara yang hadir dalam pertemuan tersebut. Beberapa hal yang mengemuka di antaranya, sampah masih menjadi masalah yang utama. Tidak hanya yang dibuang dari rumah-rumah warga yang tinggal di pinggiran sungai. Pasalnya, tidak jarang sampah-sampah juga dibuang oleh orang yang melintas di jembatan lalu melemparkan sampahnya ke sungai, baik yang jalan kaki, menggunakan sepeda motor maupun kendaraan pribadi.

Lebih dari itu, pada saat-saat tertentu, misalnya pada dini hari atau ketika debit air meninggu, warga kerap mengeluh dengan aroma yang tidak sedap dan mendapati air sungai berwarna hitam pekat. Dugaan sementara, ada pabrik yang sengaja membuang limbahnya.

Ada beberapa catatan yang muncul di situ. Di antaranya, persoalan sampah yang berasal dari masyarakat di pinggiran Sungai Deli menjadi persoalan bersama yang penanggulangannya harus dimualai dari kesadaran tiap warga dan dukungan dari pihak Kepala Lingkungan, Kelurahan, Kecamatan dan Pemerintah Kota Medan.

Begitupun masyarakat yang tidak tinggal di pinggiran sungai namun membuang sampahnya ke sungai. Dengan demikian, kesadaran terhadap lingkungan sangat besar peranannya dalam upaya pelestarian Sungai Deli kaitannya harapan Sungai Deli bebas dari sampah.

Sungai Deli sebagai kawasan lindung seharusnya tidak boleh dijadikan sebagai tempat pembuangan limbah-limbah pabrik skala kecil maupun skala besar. Ketika masyarakat di pinggiran sungai selalu dituduh sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dalam kerusakan lingkungan sungai, menurut warga ada ketimpangan karena fakta membuktikan bahwa perusakan sungai tidak hanya berasal dari sampah domestik. Karenanya hukum tidak boleh hanya tajam ke bawah, tumpul ke atas.

Selain membicarakan soal sampah dan limbah, dalam pertemuan tersebut juga membahas mengenai persiapan Peringatan Hari Pahlawan, 10 November yang mana sebagaimana sebelumnya, diadakan upacara di Sungai Deli dan dimeriahkan dengan berbagai perlombaan yang melibatkan mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Sedang asyik-asyiknya berdiskusi, salah seorang warga memberitahukan baru saja melihat seekor burung yang terbang melintas lalu mendarat di seberang sungai. Masyarakat biasanya menyebutnya sebagai burung belibis. Namun setelah diperhatikan ternyata itu burung bangau malam yang selalu mencari makan di malam hari.

Burung tersebut merupakan hewan nokturnal, yakni hewan yang beraktivitas utama pada malam hari. Bila siang hari hewan tersebut tidak memiliki aktivitas, bila malam tiba maka barulah hewan nokturnal melakukan aktivitas utama seperti makan, minum, menjelajah daerah baru dan lain lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s