Kopi Tao di Kampung Aur, Jangan Cemari Kopimu Dengan Gula

Sore hari, di tengah kerumunan warga, ada peristiwa yang menarik. Seorang pria sedang berbicara dengan pengeras suara. Menggunakan kaos bergambar Bob Marley, di tangan kirinya memegang plastik berisi biji-bijian. Di depannya, terdapat peralatan menyerupai ceret kecil dan asing. Dia turut memeriahkan peringatan 17 Agustus 2014 di Kampung Aur dengan berbicara tentang kopi.

Dia memperkenalkan dirinya sebagai Jimmy Panjaitan, dari Komunitas Peduli Hutan Sumatera Utara (KPHSU). Dia juga pemilik Kopi Tao, kopi arabika asal Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan. Di tengah masyaarakat yang beragam suku di Kampung Aur, Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun, dia menerangkan bahwa kehadirannya adalah untuk mengenalkan kopi, bukan obat.

Kopi sebagai minuman, digemari oleh sebagian besar masyarakat, tidak hanya di Kampung Aur, Dolok Sanggul, ataupun Sumatera Utara dan Indonesia tetapi juga masyarakat dunia. Tidak heran jika di kedai pinggir sungai sampai di mall kelas dunia pun selalu menyediakan kopi dengan berbagai rasa, kemasan dan perlakuan.

Kopi sebagai komoditas, dengan kualitas terbaiknya, Sumatera Utara sudah sangat terkenal hingga ke manca negara. Ribuan keluarga hidup dan bertahan dari perkebunan kopi. Sedangkan kopi sebagai budaya, sudah menjadi gaya hidup yang mana penikmat kopi terus berregenerasi.

Di balik itu semua, ada yang sedikit disayangkan bahwa sebagai penghasil kopi terbaik dan dengan jumlah penggemarnya yang cukup besar, Indonesia tidak memiliki alat atau teknologi pembuatan kopi di sektor hilir. Sebagai contoh, Prancis, memiliki alat French Press, Vietnam punya Vietnam Drips dan lain sebagainya.

Sebagian besar masyarakat Indonesia hanya mengenal cara memasak kopi tubruk dan saringan. Sementara dalam teknologi berupa alat seperti contoh di atas tidak ada. Biarpun semikian, untuk menikmati kopi yang benar-benar nikmat tidak bergantung pada ketersediaan alat-alat tersebut.

Begitupun dari sisi penyajian, sebagian besar masyarakat Indonesia selalu menikmati kopi manis. Berbeda halnya dengan penikmat kopi di negara lain yang mana kopi disajikan tanpa gula, alias pahit. Dengan demikian, di masyarakat Indonesia (di negara lain kemungkinan juga sebagian sama) terdapat dua kategori, peminum kopi manis karena ditambahi gula dan penikmat kopi pahit yang tanpa ditambahi gula.

Sebagian penikmat kopi pahit memiliki semacam slogan, yakni, jangan cemari kopi dengan gula berangkat dari kesukaannya meminum kopi pahit dan pendapat bahwa kopi harus diminum sebagaimana adanya. Selain itu, pendapat bahwa perpaduan gula (tebu) dengan kopi menghilangkan rasa asli kopi yang sangat beragam, dibedakan dari daerah dan jenisnya. Kopi Dolok Sanggul misalnya, berbeda rasanya dengan kopi Gayo, ataupun kopi Sidikalang.

Perbedaan tersebut sirna ketika masuknya gula ke dalam kopi yang akibatnya, sebagian masyarakat penikmat kopi kehilangan kesempatan menikmati ragam rasa kopi yang karena pahitnya digemari masyarakat dunia. Apa jadinya jika misalnya, kopi kebanggaan Sumatera Utara tidak lagi diekspor hanya bisa didapatkan di wilayah Sumatera Utara, lalu disajikan dengan tambahan gula?. Alangkah malangnya masyarakat pencinta kopi di dunia. (Mungkin juga, nggak nyah kek gitu ah, mengada-ada aja.)

Tapi pun ini soal selera. Walaupun, beberapa masyarakat yang mengerumuni tersebut biasanya meminum kopi manis tapi setelah disuguhi Kopi Tao, yang tanpa gula, mengaku dirinya tidak biasa meminum kopi pahit sambil menganggukkan kepala lalu berujar pahit tapi enak.

Bagi Jimmy, yang terpenting dari kehadirannya di tengah-tengah masyarakat pinggiran Sungai Deli dengan membawa kopi dari pinggiran Danau Toba adalah masyarakat mengerti kopi yang sebenar-benarnya kopi. Bukan persoalan kopi diminum dengan gula ataupun tidak. Tetapi, dengan mengenali kopi, bahwa ada banyak ragam kopi, kopi asli, kopi campur jagung, dan kopi sachet yang diragukan kekopiannya, nantinya bisa memilih mana yang layak untuk diminumnya.

“Life is too short for bad coffee, hidup ini terlalu pendek untuk kopi jelek,” katanya sambil membagikan minuman kopi pahit yang dituang di cangkir kecil kepada masyarakat yang mengerumuninya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s