Pementasan di Kampung Aur

Malam itu, di akhir tahun 2013, masyaakat di Kampung Aur mengadakan acara. Sebagaimana sebelumnya, hampir seluruh warga tumplek di lapangan yang dulunya dipakai untuk bermain takraw. Panggung yang dipersiapkan sedari pagi, marak dan riuh di malam hari.

Kampung Aur, Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun, Medan, Sumatera Utara ini tidak hanya menyimpan benih-benih seniman, tetapi sudah banyak melahirkan seniman-seniman yang sudah berkiprah tidak hanya di tanah Deli ini. Karena itu, Kampung Aur juga menjadi magnet bagi seniman-seniman dan aktivis di Medan untuk berkumpul dan berdiskusi.

Tentu saja, seniman-seniman yang rumahnya di Kampung Aur ataupun dulunya tinggal di Kampung Aur ataupun punya hubungan dekat karena kekeluargaan, persahabatan, ikatan romantisme dan nostalgia dan banyak lagi alasan-alasan lainnya datang dan menunjukkan kepiawaiannya berkesenian, mulai dari pembacaan puisi, monolog, bermain biola dan gitar serta bernyanyi dan bernyanyi, tentunya. Ini hanya sebagian foto-foto pementasan menjelang akhir tahun di Kampung Aur.

Juhendry Chaniago, misalnya. Pria berperawakan tinggi besar dan pernah memerankan sosok pria bule dalam sebuah film indie ini berhasil membuat “rusuh” penonton yang terdiri dari anak-anak, remaja hingga orang tua dengan dua puisi yang lumayan panjang, Sajak Kentut karya A Slamet Widodo dan Upil. Keduanya berbicara tentang kentut dan upil dengan gamblang tanpa tedeng aling-aling. Beruntung tidak ada satu orangpun yang muntah mendengarnya karena urang awak ini pandai membuat suasana dan merubah puisi “kurang ajar” itu menjadi humor tingkat tinggi.

Sementara itu, Anto, aktivis yang punya logat Jawa yang amat kental ini, dengan perawakannya yang gempal membacakan dua puisi Wiji Tukul berjudul Bunga dan Tembok. Suaranya yang berat memecah malam di perkampungan padat namun penduduknya ramah dan dikelilingi tembok-tembok dan bermacam-macam bunga. Suasana saat itu sedikit menjadi lebih serius dari sebelumnya. Apalagi ketika dia membacakan puisi Sajak Tapi Sayang. Biarpun begitu, kemampuannya membaca puisi yang nyaris tak pernah absen dibacakan demonstran itu, tetap mendapat respon besar dan tepuk tangan karena pesan dalam puisi sangat menyentuh persoalan masyarakat.

Selesai dengan pembacaan puisi, seniman-seniman dari Kampung Aur satu per satu naik ke atas panggung menunjukkan kepiawannya bermain gitar dan bernyanyi. Bahkan ada yang sengaja membawa anaknya ke atas panggung untuk berkolaborasi antara gitar dan biola. Apalagi ketika beberapa orang ibu naik ke atas panggung dan ikut bernyanyi, sebagian besar penonton ikut bernyanyi.

Malam itu, tidak hanya diisi dengan pementasan. Beberapa tokoh masyarakat yang hadir menyampaikan pandangan dan pesan-pesan untuk menjaga lingkungan sekitar dan menjauhkan diri dari narkoba serta tindakan-tindakan kriminal lainnya serta memperkuat tali silaturahmi antar warga dan siapapun yang turut berkontribusi membangun kampung dan tidak melupakan jasa-jasa para pendahulu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s