Warga Kampung Aur Upacara di Sungai Deli

Memperingati hari Kemerdekaan Tanah Air tercinta bisa dilakukan dengan cara apapun. Tak harus dengan biaya besar, tapi bisa dengan sederhana. Yang terpenting adalah mengokohkan keutuhan di masyarakat untuk sama-sama bangkit demi perubahan yang lebih baik, sekaligus mengingatkan penguasa agar mau membuka mata dan hatinya. Seperti yang dilakukan warga Lingkungan IV, Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun. Mereka melaksanakan upacara bendera di tengah Sungai Deli yang kerap merendam rumah mereka di kala banjir datang.

Pukul 08.53 WIB, puluhan anak-anak dan warga mulai turun ke sungai dan berbaris. Tak berapa lama seluruh perangkat upacara sudah siap di tempatnya. Pukul 09.15, peserta upacara menyanyikan lagu Indonesia Raya dan bendera berhasil dikerek ke tiang bendera. Lebih dari 50 orang rela berendam di sungai yang arusnya cukup deras disaksikan ratusan warga lainnya yang berada di atas bantaran sungai.

Upacara bendera di Sungai Deli yang diprakarsai Laskar Bocah Sungai Deli (Labosude), Sanggar Perkumpulan Remana Kampung Aur dan Syahbandar (Sanggar Perkasa) bersama warga tersebut sengaja dilakukan dengan cara yang berbeda dari umumnya pelaksanaan upacara lainnya, yang mana peserta upacara yang terdiri dari anak-anak, remaja, bapak-bapak dan ibu-ibu berada di tengah sungai yang merendam separuh badannya. Sanggar Perkasa sendiri sudah berdiri sejak 10 November 1982 sedangkan Labosude baru berdiri pada 1 Januari 2013 lalu.

Menurut Pembina Upacara, Juneidi Manday, Kemerdekaan Republik Indonesia yang saat ini menginjak usia 68 tahun, harus disambut dengan suka cita dan semangat.
Karena itu, kata dia, harus diisi dengan hal-hal positif dan menjauhkan diri dari narkoba (narkotika dan obat-obat terlarang) dan mewujudkan cita-cita mulia para pejuang. “Walaupun berbasah-basah di tengah sungai, kita tetap harus bahagia dan semangat dalam melaksanakan HUT ke-68 RI, generasi penerus bangsa harus jauh dari narkoba demi kelangsungan hidup berbangsa dan bertanah air ke depannya,” katanya kepada wartawan, Sabtu, (17/8).

Ia mengajak masyarakat dan pemerintah kota Medan untuk terus menjaga kelestarian sungai dengan cara mengenali sungai, membersihkan pinggiran-pinggirannya, untuk menjadikan kawasan pinggiran sungai salah satu objek wisata kota. “Marilah kita bersama-sama menjaga kebersihan sungai, sebab jika sungai kita bersih dan indah, maka kita bisa menjadikannya sebagai objek wisata,” harap Zunaidi yang sudah delapan generasi tinggal di kawasan Sungai Deli.

Dijelaskannya, dengan jumlah 270 kepala keluarga, di Lingkungan IV, secara umum Kampung Aur merupakan kelurahan yang rawan banjir. “Banjir kerap terjadi di sini, kita ingin semua peduli dengan masyarakat, khususnya yang tinggal di pinggiran Sungai Deli ini, jangan ada penggusuran,” ungkapnya.

Budi Bahar, selaku pimpinan upacara pada kesempatan tersebut mengatakan upacara sengaja dilakukan di sungai untuk menunjukkan bahwa hubungan masyarakat dengan sungai sangat erat. Sungai Deli itu sendiri, ungkapnya, memiliki nilai sejarah dalam perjuangan meraih kemerdekaan.

Bagaimana pun kondisinya saat ini, Sungai Deli yang seringkali banjir apalagi ketika hujan deras terus menerus, harus dilindungi dari kerusakan-kerusakan dan melestarikannya. “Bagaimanapun, Sungai Deli ini dimanfaatkan untuk banyak hal, kita ingin sungai ini seperti dulu, jernih dan lestari, dan sekarang kenapa harus mencemarkannya, Sungai Deli merupakan sungai bersejarah, dan di sinilah kita membuat sejarah, upacara bendera dilaksanakan di sini,” katanya.

Menurutnya, tak peduli upacara dilakukan di manapun meskipun di dalam sungai sekalipun. Pasalnya, yang terpenting dari memperingati Hari Kemerdekaan RI adalah untuk membangkitkan kembali semangat juang dan kemerdekaannya. “Dilakukan di sungai, untuk menunjukkan bahwa keberadaan sungai ini sangat penting, karena itu, kita mengajak untuk menjaga keseltarian Sungai Deli ini,” katanya.

Ketua Sanggar Perkasa, Ahmad Sukri mengungkapkan Upacara Bendera di Sungai Deli ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan peringatan Hari kemerdekaan ke-68 RI. Selain upacara bendera, dilanjutkan dengan berbagai lomba yang diikuti oleh anak-anak, remaja ataupun kaum ibu-ibu seperti pacu ban, makan kerupuk di sungai, menangkap ikan sapu kaca, tarik tambang dan berjalan dengan jeruk di kepala.

Sedangkan pada malam harinya, juga diadakan panggung rakyat yang menampilkan pagelaran seni teater, pembacaan puisi, musik akustik, orasi dan lainnya. “Acara puncaknya tanggal 24 Agustus mendatang, dengan pagelaran sendi dan hiburan masyarakat” katanya.

** Sumber : http://mdn.biz.id/n/45536

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s